expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 23 Mei 2012

Kebencian

Kebencian..


hmm..disini saya tidak akan menuliskan kebencian atau pun menularkan sebuah energi negatif tentang kebencian kepada anda..saya hanya ingin menulis, sebuah arti kebencian itu sendiri.
setiap manusia di dunia ini, pasti pernah menyicipi rasa benci atau paling tidak sedikit mengenal rasa itu, rasa dimana kita sangat sangat tidak menyukai sesuatu ataupun seseorang.
selayaknya yang kita tahu, kebencian yang dipendam itu tidak baik, apalagi menimbulkan rasa ingin balas dendam *kepada orang yang kita benci misalnya*.. Tapi kenapa masih banyak sekali manusia yang tega melakukan sesuatu hal yang kejam, menyakitkan kepada orang yang dibencinya. Sungguh ajaib memang rasa yang diciptakan Allah ini.

Sesungguhnya rasa benci itu diciptakan untuk dihilangkan, rasa ini tak boleh dirasa lama-lama, *kecuali benci pada keburukan dan hal-hal yang dilarang oleh Allah*.. Dalam konteks ini, saya membicarakan kebencian yang dirasa akibat sesuatu perbuatan atau pengalaman yang tidak baik, sehingga menyebabkan rasa sakit hati yang begitu mendalam hingga menimbulkan rasa benci.
Mengapa ada rasa benci? kalau memang benci itu hanya menimbulkan sebuah ketidaknyamanan, ketidakakuran, dan malah menyebabkan orang yang mempunyai rasa benci itu sendiri tersiksa terhadap rasa bencinya.
Yak, kita tau sesuatu diciptakan olehNya berpasangan, siang malam, hidup mati, dll termasuk cinta dan benci.
Kedua hal ini, sangatlah bertolak belakang, tapi apakah anda pernah menyadari bahwa keduanya mempunyai jarak yang sangat tipis?
cinta?
benci?
sampai sekarang banyak yang salah mengartikan kedua perasaan ini, kedua hal ini memang sudah tak asing lagi ditelinga kita, dan pastinya kita pernah mengalami rasa ini.
yang jadi pertanyaan sekarang, mengapa rasa benci itu ada padahal hal tersebut tidak baik??
banyak orang sering mengatakan saya benci dia .. semudah itu orang bisa menyatakan bahwa ia membenci seseorang, tapi apakah orang itu menyadarinya, karena rasa benci itu sendiri yang akan memerosokkan dia kepada hati yang kotor, pikiran yang kotor, dan semua energi negatif yang sebenarnya merusak dia sendiri.
Seseorang yang mempunyai rasa benci, karena dia memang sudah tidak bisa memaafkan. Memang rahasia hati manusia tidak ada yang mengetahui kecuali Yang Maha Mengetahui.
Tapi sebelum anda membenci, pernahkah anda berpikir ataupun merasa bagaimana ya saya kalau dibenci? pernah kah anda berpikir, rasanya dibenci orang? seperti anda membenci orang itu?
Pasti kebanyakan tidak, karena manusia cenderung egois, dan tidak perduli apa yang terjadi nantinya dengan apa yang dia lakukan sekarang.
padahal kalau kita berpikir sekarang..
dibenci? hal itu adalah hal yang paling tidak mengenakkan, perasaan dibenci, tidak disukai, dan perasaan2 lain seperti itu, paling tidak membuat keadaan psikologis kita cenderung turun. walau andaikata ada orang yang menutup mata metutup telinga, dan menutup hati karena terkena itu, PASTI manusia tidak ingin dibenci.
lalu, ketika kita membenci, apa yang kita lakukan terhadap orang itu?
memang,ada 2 versi yang mengatakan..
versi pertama, saya akan menjauhi orang itu, tidak ingin mengenalinya lagi, dan akan menutup mata apapun mengenai orang itu, versi ini lah dimana hatinya benar-benar sudah tertutup, dan rasa benci nya sudah benar-benar dipuncak, dan sulit untuk di redam.
versi kedua, saya ingin menjauhi orang itu, tapi hanya saja, ntah hati saya, mata saya, tangan saya, semuanya masih ingin tahu, ingin mengetahui, apa yang terjadi olehnya, apa yang dilakukannya. Padahal akan menyakitkan jika dilakukan. yah, manusia, memang aneh, diciptakan dengan berbagai macam rasa, dan tidak dapat dipungkiri hal itu. Versi ini, merupakan versi setengah benci, dan banyak yang terperosok dalam keadaan ini. keadaan dimana hati dan otak tidak memiliki kesinkronan. keadaan yang melelahkan.. huff
Dari kedua versi ini, sama-sama tidak baik menurut saya, karena keduanya tetap saja membuat keadaan psikologis kita menurun. Keduanya sama-sama membuat kita bermain-main dengan hati.
Padahal jika kita bisa memaafkannya semua akan terasa lebih mudah.
kita tidak perlu membuang energi untuk membencinya, karena ingat, membenci seseorang itu sangat menguras tenaga,dan pastinya mengikuti bisikan syaitan untuk terus membenci seseorang itu.
hal yang tidak baik bukan?
oleh karena itu, mulai sekarang, manusia, termasuk saya, anda, ataupun yang lainnya, harus belajar memaafkan kesalahan ataupun perbuatan yang menyakitkan hati kita, karena dengan tidak memaafkan, kebencian itu akan datang dan hinggap kepada hati kita, dan membuat hati, mata, otak kita gelap. Dan perasaan yang kita rasakan karena telah memaafkan seseorang, jauh lebih indah, lega dan nyaman daripadakita memendam rasa benci itu sendiri.
*belajar dari pengalaman.. :D

Kamis, 10 Mei 2012

Ketika Jodoh Di Tangan Orang Tua

Ketika Jodoh Di Tangan Orang Tua



Assalamu'alaikum wr.wb, Alhamdulillah puji syukur kehadirat-Nya, sudah lama sekali walaupun beberapa hari, tetapi bagi penulis sangat lama sekali dan penulis benar-benar rindu kepada pembaca sekalian. :) Hal ini dikarenakan penulis habis sembuh dari sakit. hehehe, tetapi syukur masih diijinkan kembali untuk menuliskan sebuah artikel yang terus penulis sajikan kepada semuanya.

Semua diciptakan dengan berpasang-pasangan, baik hal terkecil pun sampai terbesar semuanya sudah mempunyai pasangannya sendiri, dan pasangan yang sudah ditentukan tak dapat lagi dipisahkan. Begitu juga manusia, manusia pun juga sudah ditentukan pasangannya siapa, jodohnya siapa, pendamping hidupnya siapa, dan sebagainya. Oleh sebab itu kita sering mendengar ada sebuah kata JOHAN (Jodoh Ditangan Tuhan).

Benar sekali jodoh itu sudah ada yang menentukan, tetapi tidak dengan tinggal diam saja dan menunggu, tetapi harus disertai dengan sebuah ikhtiar dan do'a, hal ini dilakukan agar jodoh yang sudah ditentukan benar-benar yang terbaik bagi kita.

Namun bagaimana kita mengungkap sebuah makna "Ketika Jodoh Di Tangan Orang Tua." Sungguh hal menarik bukan? Sudah tak perlu kaget jika sekarang makin marak orang tua yang menjodohkan anaknya dengan pilihannya. Mungkin bagi orang tua ingin memberikan yang terbaik buat anaknya, orang tua sebenarnya bagus untuk menentukan jodoh anaknya atas pilihannya.

Tetapi ada beberapa hal alasan orang tua menjodohkan anaknya dengan pilihannya:

a. Tidak Ingin Anaknya Sengsara

Orang tua yang beralasan seperti ini biasanya terjadi karena calon pendamping hidup yang dipilih anaknya sendiri tidak memenuhi kriteria, misalkan saja (maaf) penuh keterbatasan. Keterbatasannya baik secara materi ataupun disabilitas. Nah, anaknya yang cantik dan mungkin saja tingkatannya lebih tinggi membuat pandangan orang tua berbeda, disini akan terlahir sebuah pandangan bahwa kebahagiaan itu tidak akan terjadi jika dua orang berlawan jenis berbeda tingkat annya.

b. Orang Tua Malu

Malu dong jika pilihan anaknya jauh banget dari kriteria, kita kan orang besar, malu sama tetangga, sama rekan masak calonnya seperti ini, sudah terlihat masa depan suram. hehehe. Ya paling tidak sepadan lah, jangan yang seperti ini. Bla...bla..bla...

c. Alasan lain


Dan alasan lainnya adalah bahwa orang tua menjodohkan anaknya dilihat dahulu dari keturunan siapa, pekerjaan nya apa, dan lain-lainnya. Sudah pasti orang tua yang menjodohkan anaknya punya beberapa alasan lainnya yang lebih penting lagi. Misalkan saja berhati-hati sebelum terlanjur menyesal, melihat bahwa calonnya anak pen*ahat, anak peng**is, dan tidak rajin beribadah dan lain-lainnya, untuk lebih memastikan bahwa anaknya nanti bisa hidup bahagia.

Sebenarnya hal yang wajar jika orang tua menginginkan anaknya bahagia, disini ada dua pertanyaan yang mungkin bisa dijawab oleh orang tua? Apakah menjodohkan anaknya dengan calon pilihannya itu benar-benar ingin membahagiakan anaknya ataukah ingin membahagiakan dirinya sendiri? Penulis yain 1000% orang tua akan bahagia jika anak menuruti pilihan orang tuanya, tetapi ada satu pertanyaan yang lebih penting lagi, apakah orang tua yakin? bahwa anak yang dijodohkan bukan pilihannya membuat dia bahagia? Ehemm, sudah dipastikan dihati terdalam anak ada sebuah keterpaksaan, sebuah tekanan, dan semua itu demi kebahagiaan orang tuanya.

Jika sang anak memilih jodohnya sendiri dan itu tidak cocok bagi orang tuanya, pasti orang tuanya akan sedih. Begitu juga sebaliknya, jika orang tuanya memilihkan jodoh untuk anaknya dan tidak cocok bagi anaknya, maka anaknya pun sedih. :)

Sebenarnya dalam hal memilih pasangan hidup, tanda ia jodoh adalah adanya kecocokan dan saling keterikatan, tidak masalah perbedaannya dari segi apa, perbedaan bukan lah yang menentukan kebahagiaan, nabi muhammad saw adalah anak yatim piatu dan miskin tetapi mendapatkan jodoh yang kaya raya, tetapi beliau dengan istrinya sangat bahagia sekali.

Jadi, hak memilih pasangan hidup adalah anaknya, dan hak orang tua hanya memberikan pesan, pendapat, dan dukungan bukan dengan memaksa anaknya. Dan satu hal lagi, yang menentukan kebahgiaan adalah restu dari orang tua, jikalau memang pilihan anaknya tidak cocok, hal yang pantas dilakukan oleh orang tua adalah selalu berdoa dan meluaskan restu untuk anak dan menantunya, pasti dengan itu akan sama-sama bahagia nantinya. Dan anak pun juga demikian, hendaklah memilih pasangan yang benar-benar pasangan itu bisa diajak berubah menjadi baik dan memiliki sopan santun dan etika. :)

Penulis yakin, tidak akan ada lagi kebingungan soal ini. Demikianlah pembahasan sederhana mengenai "Ketika Jodoh Di Tangan Orang Tua" Semoga dapat memberikan sedikit ilmu dan mohon maaf bila ada yang salah dari tulisan ini. Kesalahan adalah milik penulis dan kebenaran hanyalah milik-Nya. :)


Wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai
pendapat, dan wanita gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izin darinya Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana izinnya? Beliau menjawab :Ia diam [Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Anak-Anak Mengikuti Perbuatan yang Dilakukan Orangtua


Seorang anak yang melihat ayahnya selalu berzikir dan bertahlil, bertahmid, dan bertasbih, maka dia pun akan mudah untuk mengucapkan: Laa ilaaha illalloh, Subhanallah, dan Allahu akbar.

Begitu pula seorang anak yang dibiasakan untuk mengirim sedekah pada malam hari karena diutus oleh orangtuanya kepada fakir miskin secara rahasia, jelas akan berbeda dengan seorang anak yang disuruh oleh orangtuanya pada malam hari untuk membeli narkoba atau rokok.
Seorang anak yang selalu melihat ayahnya berpuasa senin dan kamis, ikut serta dalam shalat berjama’ah di masjid jelas akan berbeda dengan seorang ayah yang melihat ayahnya berada di tempat perjudian atau bioskop serta tempat-tempat hiburan yang lainnya.
Anda akan melihat seorang anak yang selalu mendengarkan suara adzan mengulang-ngulang lantunan adzan, dan Anda akan melihat seorang anak yang selalu mendengarkan lagu yang dilantunkan orangtuanya, melantunkannya pula.
Sungguh indah andaikata seorang ayah adalah pribadi yang slelu berbuat baik kepada kedua orangtuanya dengan berdo’a untuk mereka dan memohon ampunan kepada Allah bagi keduanya, selalu menanyakan keadaannya dan tenang berada bersama keduanya, selalu memenuhi kebutuhan keduanya dan memperbanyak berdo’a dengan ungkapan:
Robbigh firli waliwali dayya
“Ya Allah ampunilah aku dan kedua orangtuaku”
Dia akan selalu mengucapkan:
Robbbirhamhuma kama robbayani shoghiro
“Ya Allah, kasihanilah mereka berdua sebagaiaman mereka telah mendidikku diwaktu kecil”
Dia pun berziarah ke makam kedua orangtuanya, bersedekah untuk keduanya, menghubungkan kekerabatan dengan orang-orang yamg dekat dengan keduanya, juga memberi kepada orang-orang yang selalu diberi oleh keduanya.
Jika seorang anak melihat perangai orangtuanya yang sedemikain, maka dengan izin Allah anak itu akan meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Dia akan selalu memohon kepada Allah ampunan bagi kedua orangtuanya, dan sealu melakukn sesuatu yang biasa dilakukan oleh kedua orangtunya kepada kakek dan neneknya.
Seorang anak yang dididik shalat oleh orangtuanya jelas akan berbeda dengan seorang anak yang biasa diajarkan menonton film, musik atau sepak bola.
Sesungguhnya jika seoarang anak melihat kedua orangtuanya melakukan shalat malam dengan menangis karena takut kepada Allah juga dengan membaca alqur’an, niscaya dia akan berfikir kenapa ayahnya menangis? Kenapa dia melakuakn shalat? Dan kenapa dia meninggalkan tempat tidur yang empuk lagi hangat? Kenapa dia memilih air wudhu yang dingin ?!
Kenapa dia meninggalkan tempat tidurnya dengan memilih memohon kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap?
Semua pertanyaan ini akan selalu tertanam di dalam pikiran seorang anak dan selalu memikirkannya yang pada akhirnya si anak dengan izin Allah akan meniru apa saja yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Demikian pula anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhijab dan menutup diri dari laki-laki lain, dia telah dihiasi dengan rasa malu dan sikap menjaga kehormatan, kesucian dirinya telah menjadikan dirinya mulia. Jika ibunya demikian niscaya anaknya juga akan belajar menanamkan rasa malu, menjaga kehormatan dan kesucian dari ibunya. Sedangkan anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhias diri di depan setiap laki-laki, bersalaman, dan bercampur baur, tertawa dan tersenyum dengan laki-laki lain bahkan berdansa dengan mereka, maka anaknya pun akan belajar yang demikian itu darinya.
Maka bertakwalah kalian wahai para ibu dan ayah! Jagalah anak-anak kalian, dan jadilah kalian sebagai suri tauladan bagi mereka dnegna perangai yang baik dan tabiat yang mulia. Sebelum itu semua, jadilah kalian sebagai suri tauladan dengan memegang teguh agama Allah juga Nabi-Nya.

Rabu, 09 Mei 2012

Curahan Hatiku



Awalnya aku iri padamu kawan. Aku iri pada semua anak di dunia yang memiki orang tua yang menyangi anaknya dan selalu ada waktu untuk keluarganya. Bisa mengobrol dangan ayah itu pasti asyik. Atau bisa curhat pada ibu juga pasti lebih melegakan daripada curhat kepada teman.
Tetapi tidak dengan orangtuaku. Ya, orangtuaku. Mereka adalah manusia super sibuk. Ibuku setiap pagi harus pergi mengajar anak anak lain sepertiku, dan pulang di siang hari. Dan malamnya ia pakai untuk mengerjakan tugas tugasnya sebagai guru, memeriksa tugas dan ulangan mereka. Dan sisa waktu luangnya ia gunakan untuk meregangkan otot ototnya.
Tidakkah ia ingat denganku yang masih remaja dan membutuhkan perhatian lebih? Aku ini remaja labil kawan, sedikit di sentuh langsung terjatuh. Aku butuh ibu yang bisa mendengarkan semua cerita dan keluh kesahku. Dan yang lebih menyakitkan bagiku adalah ketika aku melihat ibuku sedang mengajar anak anak sepertiku, ia terlihat begitu perhatian kepada anak anak itu. Tetapi tidak denganku. Ya , tidak denganku.
Terlebih lagi ayahku, ia lebih sibuk dari ibuku. Ia terkadang pergi di pagi buta dan pulang malam hari. Atau terkadang pulang sore hari atau siang hari, atau … ah sudahlah tak akan kutuliskan jadwal keseharian ayahku karena aku pun tidak mengerti dengan jadwal ayahku yang tidak tentu itu. Mengingat pekerjaanya sebagai salah satu orang yang berwenang di perusahaannya dan tidak memiliki waktu yang mengikat, dan mengingat perannya yang cukup penting di masyarakat membuatnya harus selalu menyediakan waktu untuk masyarakatnya. Lalu sisa waktu luangnya di rumah ia gunakan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Maka di rumah ia hanya duduk di depan laptop hitamnya atau tidur untuk meregangkan otot ototnya. Ketika aku mencoba mengobrol dengannya, iya hanya menjawab “hmm” lalu beberapa saat diam, lalu berkata “tadi bilang apa?’ lalu sibuk mengetik dan manatap layar kaca laptopnya.
Kawan, sakali lagi kukatakan padamu, aku ini remaja labil. Aku butuh seorang lelaki yang bisa membuat aku tertawa dan melupakan tumpukkan tugas dan pr dari sekolahku untuk beberapa saat.
Ya, aku iri padamu kawan. Sampai suatu saat ketika sebentar lagi umurku akan merubah statusku. Dari remaja menjadi dewasa. Sesuai dengan Undang Undang Republik Indonesis. Kira kira berapa umurku saat itu? Yap. 16 tahun kawan.
Saat itu, saat aku berusia 16 tahun. aku bicara dengan ayah dan ibuku. Kali ini kami saling menatap wajah, aku mengobrol banyak hal pada mereka. Aku tanyakan semua pertanyaan yang selalu kupendam selama ini. Rasanya nyaman kawan. Nyaman sekali rasanya bisa mengobrol dengan ayah dan ibu, tetapi, walaupun aku senang, saat itu aku melihat wajah ayah dan ibuku dengan seksama. Kau tau kawan? Mata mereka kini tidak lagi cerah seperti dulu, matanya menyiratkan kelelahan, kulit mereka tidak lagi segar, kini mulai tumbuh keriput keriput kecil di sisi mata kanan dan kirinya.
Ya Allah, saat itu aku berpikir… apakah wajah kelelahan itu untukku? Ya kawan, semuanya untukku. Setiap hari mereka berjuang untukku, berjuang agar aku bisa sekolah dan menabung untuk uang kuliahku. Dan karena aku tidak menyadari semua itu, aku biarkan ayahku mengambil rapor sekolahku dengan nilaiku yang tidak memuaskan. Tapi apa katanya kawan? “tak apa apa nak, masih ada semester depan, belajarlah yang rajin ya” ya, itulah yang ia katakan. Ia selalu memotivasiku.
Maka pantaskah aku berharap untuk dibuat tertawa oleh mereka? Pantaskah aku jejali hari hari melelahkan mereka dengan cerita ceritaku yang membosankan? Seharusnya aku yang membuat mereka bahagia dan membuat mereka tertawa. Ya, aku seharusnya berpikir lebih dewasa. Ayah, ibu, maafkan aku.
Dan detik itu juga kawan, aku tidak berpikir bahwa aku iri padamu, tapi aku bangga karena aku punya orangtua terbaik di dunia.

Senin, 07 Mei 2012

Cara menyimpan file di google atau sitegoogle

1. Login dengan menggunakan account gmail

2. Buat site seperti gambar di bawah ini :

3. Nah sekarang situs atau site sudah jadi, sekarang klik edit-sidebar

4. Klik Attachment atau lampiran

5. Kemudian klik Upload dan masukkan file yang akan disimpan

6. Nah setelah filenya ter-Upload, sekarang kita ingin mengshare atau membagikan file tersebut. Caranya klik kanan pada file tersebut, pilih copy link location
7. Coba pastekan link pada status di facebook seperti di bawah ini :

Love Story

 

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Lewat kata yang tak sempat disampaikan

Awan kepada air yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *